Minggu, 28 Agustus 2011

opini


Apakah PNS Masih Solusi???
Jhon Fawer Siahaan

Ditengah banyaknya para sarjana yang tamat dari perguruan tinggi, PNS (pegawai negeri sipil) menjadi dambaan setiap para sarjana karena menjadi seorang PNS hidup bisa dikatakan sejatera, dan mempunyai bekal di hari tua,hal itulah yang menjadi alasan utama kenapa setiap para sarjana berlomba untuk menjadi seorang pegawai negeri sipil. Berbagai macam cara banyak dilakukan orang tertentu untuk berlomba menjadi seorang PNS.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan jumlah pegawai negeri sipil (PNS) di Indonesia saat ini sudah cukup tinggi dan bisa memberatkan anggaran pemerintah dalam penyediaan tunjangan gaji serta pensiun dan asuransi (Liputan6.com), menyikapi hal diatas patut kita bertanya apakah PNS masih solusi karena angaran yang ada kini tidak sanggup lagi untuk memberikan gaji para pegawai negeri sipil saat ini.
Membludaknya pegawai negeri sipil.
Banyaknya Pegawai negeri sipil sangat  berkaitan dengan banyaknya daerah yang baru mekar atau terbentuknya propinsi baru atau kabupaten sehingga sangat membutukan parah pekerja yang duduk di masing-masing lembaga yang baru mekar, sementara pendapatan asli daerah tidak mengalami perubahan yang signifikan, sehingga angaran untuk pegawai negeri sipil tidak lagi mencukupi, tamatan perguruan tinggi yang tiap tahunya makin meningkat menjadi sebuah masalah untuk yang akan datang, jadi daerah yang baru mekar menjadi sasaran utama para sarjana untuk mencari kerja.
Hal diatas juga tidak lepas dari mutu pendidikan sekarang yang kita lihat semakin menurun. Dimana para sarjana sekarang hanya tercipta sebgai pencari lapangan kerja bukan bagaimana mencari solusi dengan menciptakan lapangan kerja, sehingga pengganguran di negeri ini bisa teratasi, tetapi realita yang kita lihat sekarang bahwa tridarma perguruan tinggi itu sudah terkikis oleh jaman, dimana dulu mahasiswa aktif dalam belajar, meneliti, dan mengabdi tetapi kenyataanya sekarang hal itu hanya mimpi belaka.
Mahasiswa sekarang bukan lagi menjadi ahli, tetapi tak ubahnya hanya sebagai budak yang hanya menunggu, dengan harapan dia menemukan lapangan pekerjaan, sehingga setia pelamaran calon pegawai negeri sipil setiap tahunya semakin membludak.
Akibat membludaknya jumlah pegawai negeri sipil sekarang, sehingga ada beberepa inisiatif ingin dilakukan yaitu pertama pensiun dini bagi para pegawai negeri sipil, tetapi hal itu adalah hal yang kurang memungkinkan pastinya ada tebang pilih ketika diberlakunnya pensiun dini, dan praktek KKN bisa saja terjadi apabila diberlakukannya pensiun dini bagi para pegawai negeri sipil. Dan yang kedua adalah meminimalkan penerimaan pegawai negeri sipil.
Hal diatas menjadi sangat tidak masuk akal apabila kita melihat dengan kondisi sekarang misalnya bangsa kita masih kekurangan akan tenaga pengajar, bagaimana menurunkan jumlah calon pegawai yang duduk dilembaga tertentu yang kenyataanya masih sangat dibutukan, terlebih lagi banyaknya tamatan sarjana yang hampir tiap tahun makin meningkat yang pada ahirnya berlomba untuk berebut kursi pegawai negeri sipil.
Yang menjadi inti permasalahan kurangnya APBN, untuk membiayai pegawai negeri sipil adalah membludaknya jumlah pegawai negeri sipil, hal itu tidak lepas dari banyaknya daerah-daerah yang baru mekar, dan proses seleksi pegawai negeri sipil yang kurang bagus, sehingga banyak pegawai negeri sipil yang asal jadi, dan mutu pendidikan diperbaiki dengan diperbanyaknya pelatihan-pelatihan, sehingga para mahsiswa kelak sesudah tamat yang pastinya berpikir bagaimana membuka lapangan pekerjaan, tidak lagi berlomba untuk menjadi serang pegawai negeri sipil yang semakin memberatkan Negara ini. Dan diperlukan pengetatan dalam seleksi calon pegawai negeri sipil.
                                    **penulis aktif dalam gerakan sosial di kelompok studi BARSDem



Tidak ada komentar:

Posting Komentar